Moohla!: Esai
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Friday, November 6, 2020

Intertekstual: Antara S. Othman Kelantan dan Hasan Al Banna dalam Garapan Cerpen Kebohongan Ustaz

PENGARANG sebagai produktor sebuah karya bukanlah orang gila yang memproduksi karya dengan semau hati tanpa memikirkan efek dari karyanya. Pengarang ialah orang jenius yang mampu mengolah sebuah kejadian dengan memasukan pemikiran-pemikiran serta pendapat-pendapatnya, kemudian dijadikan sebuah cerita yang menarik, menghibur hingga mempengaruhi batin pembaca.


  Syafrizal Sahrun*  

Dalam menulis karyanya, pengarang tidak berangkat dari kekosongan budaya. Pastilah dalam membuat sebuah karya ia dipengaruhi oleh apa yang pernah ia baca, apa yang pernah ia alami, atau apa yang pernah ia saksikan. Kemudian hal itu diolah dalam pemikirannya, lalu dituangkan dalam sebuah karya. Apakah hal yang mendasari itu mau ia lawan atau dibenarkan terserah kepada pengarang.

Berdasakan pengaruh itu pasti dapat dijumpai hubungan-hubungan antara yang mempengaruhi (hipogram) dengan yang dipengaruhi. Baik persamaan atau pertentangannya. Hubungan itu dapat dilihat dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Untuk membandingkan karya sastra dengan mencari persamaan atau pertentangannya biasa digunakan teori intertekstual.

Julia Kristeva mendefenisikan intertekstual sebagai sebuah pendekatan untuk memahami sebuah teks sebagai sisipan dari teks-teks lain. Intertekstual juga dipahami sebagai proses untuk menghubungkan teks dari masa lampau dengan teks masa kini. Suatu teks dipahami tidak berdiri sendiri. Suatu teks disusun dari kutipan-kutipan atau sumber-sumber teks lain (wikipedia).

Cerpen Ustaz karya S. Othman Kelantan (Dewan Sastra, Februari 1980) dengan cerpen Kebohongan Ustaz Baihaqi karya Hasan Al Banna (Jawa Pos, 4 Maret 2012) pantas rasanya untuk dibicarakan mengenai hubungannya. Kedua cerpen itu memiliki persamaan, baik dari unsur intrinsik dan mungkin unsur ekstrinsik yang membentuknya. Apalagi kedua cerpen tersebut dari negara yang berbeda dan dalam rentang waktu jauh berbeda pula. Cerpen pertama terbit di Malaysia dan ditulis oleh sastrawan negaranya, sedangkan cerpen kedua terbit di Indonesia dan ditulis oleh sastrawan negaranya.

Setelah membaca kedua cerpen itu, saya menduga cerpen “Ustaz” merupakan hipogram cerpen “Kebohongan Ustaz Baihaqi”. Mengapa demikian? Alasannya mudah, karena cerpen “Ustaz” lebih dulu ada. Sebagai sastrawan yang tidak hanya menulis tapi membaca, saya berprasangkan bahwa Hasan Al Banna pernah membaca cerpen karya S. Othman Kelantan yang dibicarakan. Dari proses membaca itu, Hasan terinspirasi menulis cerpen beride sama, tapi dengan cara yang berbeda atau disesuaikan dengan kondisi zamannya. Mari saya tunjukkan persamaan-persamaan yang mendasari dugaan saya itu.

Pada kedua judul cerpen itu terdapat kata ustaz. Ada apa dengan ustaz? Ustaz diartikan sebagai orang yang menguasai ilmu keislaman dan mendakwahkannya kepada masyarakat. Sebagai pendakwah, ustaz akan menjadi teladan bagi masyarakat. Bagaimana pula jika seorang ustaz berbohong? Sementara bohong sebuah sifat membawa dosa? Kedua cerpen itu membicarakan tentang kebohongan ustaz. Itulah dasar dugaan saya.

Cerpen “Ustaz” dibuka dengan deskripsi batin Ustaz Saifuddin – si tokoh utama – menghadapi Siti Nuriza, seorang gadis belia mempesona dan menggairahkan yang akan menjadi muridnya mengaji. Gadis itu diibaratkan bak anak kijang yang melompat-lompat di suatu taman yang entah di mana, alangkah manisnya ia. Alangkah hidupnya ia. Alangkah! Ustaz Saifuddin tau bahwa ia akan tergoda dengan pesona dan gairah Siti Nuriza, tapi bagaiman ia harus menolak, sementara sebagai seorang ustaz sudah menjadi kewajibannya untuk memulihkan keuzuran sekelompok otak di sebuah rumah besar keluarga ternama. Bersebab kewajiban itu, Ustaz Saifuddin pun menerima tawaran mengajar.

Begitu juga dengan cerpen “Kebohongan Ustaz Baihaqi”. Cerpen itu dibuka dengan deskripsi batin Ustaz Baihaqi – tokoh utama – memaknai kedatangan Ujang Pelor yang mencarinya ke rumah. Ujang Pelor seorang preman yang ditakuti. Ia juga dikenal sebagai bandar togel – toto gelap di kota kediaman Baihaqi. Mau apa preman itu mencari Baihaqi? Hal itu yang menjadi pertentangan di dalam batin tokoh utama. Ternyata Ujang Pelor menginginkan ustaz itu untuk mengajarinya mengaji. Baihaqi akhirnya mengiyakan permintaan Ujang Pelor setelah banyak berkelit sebagai usaha untuk menolak.

Di samping judul cepen, cara kedua pengarang dalam membuka cerpennya juga memiliki kemiripan. Tokoh utama dalam kedua cerpen dihadapkan pada permintaan yang sama, yaitu diajari mengaji. Di balik itu tokoh utama ingin menghindar dari permintaan itu karena alasan latar belakang orang yang akan menjadi muridnya. Pada akhirnya si ustaz sebagai tokoh utama menerima permintaan itu juga.

Persamaan selanjutnya terletak pada penanjakan alur. Untuk menguji kesabaran tokoh utama, kedua pengarang menghadirkan cobaan-cobaan. Pada cerpen “Ustaz”, S. Othman Kelantan meramu sebuah permasalahan yang menggoda iman seorang ustaz. Kebiasaan Siti Nuriza mengenakan pakaian yang memperlihatkan auratnya membuat seorang ustaz bak dihadapkan pada buah simalakama. Sebagai seorang jejaka, wajar ia tergoda wajah dan tubuh seorang perempuan. Semakin hari perempuan yang menjadi muridnya itu mengancurkan hatinya. Dia menganggap keberadaan mereka dapat mengakibatkan dosa karena hawa nafsu di dadanya terus bergolak. Tambah pula muridnya itu memberi peluang untuk hadirnya rasa cinta. Bak dayung bersambut. Menyadari siapa dirinya, Saefuddin terpaksa memilih tidak mengajar lagi dengan membuat suatu kebohongan. Ia meminta izin kepada Datuk Jalal Akbar – ayah Siti Nuriza yang dulu memintanya mengajar – untuk tidak mengajar anak-anaknya lagi kerena akan dikirim ke Pahang. Untuk menggantikan dirinya, ia sudah menyiapkan pengganti.

Kebohongan yang dilakukan Saefuddin dijadikan sebagai usaha untuk menghindarkan dirinya dari dosa nafsunya terhadap muridnya itu, begitu juga sebaliknya. Apalagi muridnya itu sudah memberikan ruang untuk berseminya cinta antara guru dan murid. Kebohongan itulah yang dianggap sebagai jalan keluar dari dosa yang meninabobokkan. Ibarat keluar dari mulut singa masuk kemulut harimau, begitulah dosa yang memerangkap manusia. Tapi bagaimanapun kebohongan yang dilakukan Saefuddin adalah pilihannya yang paling baik.

Disamping itu, pada Cerpen “Kebohongan Ustaz Baihaqi”, Hasan Al Banna juga menghadirkan cobaan kepada tokoh utama. Saat mengaji, mulut Ujang Pelor masih mengeluarkan bau Bir. Kebiasaannya itu sulit ia lepaskan. Bir bagi Ujang Pelor sama seperti minuman biasa. Bagaimana pula orang yang membaca kitab suci tapi dalam pengaruh Bir? Suatu hal yang tak lazim. Menghadapi hal itu, Baihaqi mengalami konflik batin. Ia terpaksa memberikan sanksi-sanksi pada muridnya itu.

Bersebab jadi guru mengaji preman itu, Baihaqi dihadapkan pada pertanyaan temannya semasa kuliah di Mesir. Mereka menyarankan Baihaqi untuk meninggalkan Ujang Pelor dan menerima permintaan Pak Darwin – anggota dewan – untuk mengajari anaknya mengaji. Dalam dialog itu ada hal yang tidak menyenangkan Baihaqi, yaitu pertanyaan tentang upah mengajar yang diterimanya dari Ujang Pelor. “Pak Darwin bisa memberikan upah yang banyak.” Rayu temanya, tapi baginya itu merupakan sindiran. Dalam hal itu seolah Baihaqi mengajar mengaji hanya karena upah. Ia merasa dihinakan. Untuk mematahkan pembicaraan itu, Ia mengatakan bahwa upah yang didapatnya berlipat-lipat dari ditawarkan Pak Darwin. Sama seperti kebohongan pada cerpen pertama, kebohongan yang dilakukan Baihaqi juga sebagai upaya keluar dari masah tetekbengek kehidupan.

Persaman-persamaan itu semula bagi saya sangat kuat untuk mengatakan cerpen pertama merupakan hipogram dari cerpen kedua. Lantas bukan berarti saya mengatakan bahwa Hasan Al Banna telah mencontek cerpen karya S. Othman Kelantan. Mengenang pendapat Pradopo yang mengatakan bahwa sebuah teks kesastraan yang dihasilkan dengan kerja demikian (hipogram) dapat dipandang sebagai karya yang baru. Pengarang dengan kekuatan imajinasinya, wawasan estetiknya, dan horison harapannya sendiri, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karyanya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain tersebut, yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu, gagasan, tentulah masih dapat dikenali.

Dengan dasar telah membaca cerpen “Ustaz”, maka setelah membaca cerpen “Kebohongan Ustaz Baihaqi” maka kita dapat mengenali kemiripan hubungan dari kedua cerpen itu. Bisa jadi kita menduga Hasan Al Banna pernah membaca cerpen “Ustaz karya” S. Othman Kelantan yang terbit jauh lebih awal dari cerpen yang dikarangnya. Dari pembacaan itu ia memperoleh insprasi untuk mengambil ide dari cerpen yang ia baca, kemudian menciptakan cerpen yang baru dengan bentuk yang berbeda tapi rasanya sama. Ustaz dan kebohongan suatu hal yang bertolak belakang. Ketaklaziman itulah mungkin yang menjadi daya tarik Hasan Al Banna menciptakan cerpen beride sama tapi dikemas dalam balutan yang berbeda.

Bisa juga anggapan itu salah. Mengapa? S. Othman Kelantan yang hidup dalam lingkungan Islam Malaysia, menyerap keadaan lingkungannya yang islamis itu. Lalu muncul dalam pemikirannya memadukan seorang ustaz dengan kebohongan sebagai sebuah sifat untuk dijadikan sebuah karya. Begitu juga dengan Hasan Al Banna. Ia juga hidup dalam lingkungan Islam Indonesia. Ia juga dipertemukan dengan ustaz dan segala permasalahannya. Dengan menangkap permasalahan itu lahirlah ide yang membicarakan hubungan ustaz dan kebohongan.

Untuk menuntaskan prasangka saya, sempat saya bertanya kepada Hasan Al Banna mengenai keterpengaruhannya terhadap sumber bacaan lain dalam menciptakan cerpen “Kebohongan Ustaz Baihaqi”. Ia menjawab bahwa tidak terpengaruh dari bacaan lain melainkan ide cerita yang demikian ia dapat dari imaji yang bertolak dari sekelilingnya.

Dapat disimpulkan bahwa cerpen yang dihasilkan Hasan Al Banna tidak bersumber dari cerpen yang dikarang oleh S. Othman Kelantan. Meskipun ada kemiripan, tapi tidak ada pengaruh dari cerpen sebelumnya. Hasan Al Banna, mungkin juga S. Othman Kelantan menjeput ide dari keadaan sekelilingnya yang memiliki kesamaan, yaitu lingkungan masyarakat Islam. Jadi kemiripan unsur intrinsik yang terdapat pada kedua cerpen yang beralur maju itu tidak semata-mata bersumber dari teks tertulis yang ada sebelumnya, bisa jadi diperoleh dari teks yang tidak tertulis yang hidup dan berkembang di masyarakat.

Bila mengenang ungkapan yang menyatakan bahwa suatu teks baru muncul didasari dari teks-teks yang mendahuluinya, kita bisa saja menolak bila kita memahami teks yang dimaksud sekadar apa yang ditulis. Tapi bila teks juga diartikan sebagai cerita tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat kita bisa bersepakat dengan ungkapan itu.
______________________________________


Syafrizal Sahrun. Lahir di Percut, 4 November 1986. Alumni FKIP UISU Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bekerja sebagai guru honor di SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan. Karya puisi, cerpen, esai sastranya telah dimuat di media lokal dan nasional. Ada juga yang telah dibukukan dalam antologi bersama. Pernah "dinobatkan" sebagai sastrawan muda Sumatera Utara dalam Omong-omong Sastra Sumut (OOS).


(Artikel di atas pertama kali diterbitkan di rubrik Art & Cultur, Medan Bisnis)

Emansipasi dalam Cerpen Lelaki Berjaket Biru Tua

Cerpen adalah sebuah wadah penyaluran ekspresi manusia dalam memaknai kehidupan. Baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan lain di luar dirinya. Problematika Kehidupan sebagai bahan pembuatan cerita mempunyai daya magnit untuk dikonsumsi manusia. Baik diposisikan sebagai hiburan maupun sebagai bahan renungan.



  Syafrizal Sahrun*  

Menghadirkan daya magnit dalam sebuah cerita tidak segampang yang dikira. Butuh sebuah keahlian untuk meraciknya sehingga menjadi bahan bacaan yang berkesan sekaligus bermutu. Keahlian yang dimaksud bisa saja hadir sebagai pembawaan diri tapi tidak menutup kemungkinan ia ada dari proses latihan dan ketekunan. Jika keahlian yang datang dari pembawaan diri dan disertai latihan-latihan dan ketekunan alamat karya cipta yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.

Membicarakan sebuah cerpen sebagai hasil karya cipta manusia adalah merupakan sebuah penghargaan. Penghargaan yang diberikan pembaca terhadap keberadaannya. Kebaradaannya sebagai bacaan yang dikonsumsi publik dengan latar belakang kehidupan pembaca yang berbeda-beda akan melahirkan kesan atau penafsiran yang berbeda-beda pula. Terlepas dari yang bersifat pujian maupun kritikan itulah bentuk penghargaan, atau yang lebih akrab disebut apresiasi.

Dalam kesempatan ini akan diberikan penghargaan kepada cerpen Lelaki Berjaket Biru Tua karya Mega Yudia. Cerpen tersebut dimuat pada rubrik Art & Cultur Harian Medan Bisnis tanggal 7 September 2014. Cerita dimulai dengan perkenalan tokoh ‘aku’ yang berprofesi sebagai penyiar acara request lagu-lagu di Boss FM. Ia mendapat permintan bertemu dari seorang lelaki yang tidak lain adalah pendengar setianya. Sebenarnya ia malas meladeni permintaan itu, tapi bersebab permintaan itu datang dari orang yang mengaku mengenalnya dan ada hal penting yang ingin di sampaikan, ia pun mengiyakan.

‘Debu vulkanik gunung Sinabung ternyata sudah melanda kota Medan. Dengan segera kusinggahkan diri membeli masker di sebuah apotik terdekat. Aku memang paling anti dengan sakit dan penyakit. Itu sebabnya motto hidupku tak pernah jauh dari “lebih baik miskin tapi sehat daripada kaya tapi sakit-sakitan”’.

Dari paragraf di atas dapat diartikan cerpen ini berlatar di Medan. Medan sebagai sebuah kota yang merasakan dampak erupsi Gunung Sinabung. Sayang, kata Medan hanya dipakai sebagai pinjaman. Pada paragraf tersebut juga terbaca motif nasihat yang mengarahkan pembaca untuk menjaga kesehatan. Kesahatan lebih berharga dari kekayaan.

Tokoh ‘aku’ lebih dahulu sampai di tempat yang dijanjikan untuk bertemu. Dalam keadaan menunggu itu, cerpenis memunculkan keluahan tokoh yang mengatakan: menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Kita pun sepakat mungkin pada pernyataan itu.

Lelaki yang ditunggu muncul. Lelaki itu di gambarkan cerpenis sebagai kunci yang membuka masa lalu tokoh yang menghadirkan konflik. Reza Ardinata namanya. Lelaki yang semasa SMA menggunakan kaca mata tebal. Kaca mata tebal identik dengan kutu buku. Bersebab kekutubukuannya itulah ia diibaratkan sebagai pengecut.

Cerpenis menghadirkan dialog antara tokoh ‘aku’ dengan lelaki itu. Sebuah perdebatan. Perdebatan yang muncul pada dialog antar tokoh maupun perdebatan batin tokoh. Si tokoh pun acuh tak acuh dengan penjelasan lelaki itu. Muncul sikap kejiwaan manusia di sini. Sikap acuh tak acuh dilandaskan pada kekecewaan atas kejadian dua tahun silam. Seandainya lelaki itu bukan pengecut – jika tidak mau dibilang penghianat – mungkin perampok itu tak jadi menggahinya sebab perlawanan Reza akan menambah masa tunggu atau menghadirkan peluang untuk keselamatan si tokoh. Ada sifat egois terbaca di sini. Sebagai orang yang di rugikan pantas pula tokoh bersikap demikian. Bagaimana tidak, akibat kejadian itu masa depannya hancur. keinginannya menjadi seorang dokter gagal. Ia berhenti sekolah karena di rahimnya tertanam benih perampok itu.

Latar kebenciannya pada lelaki itu bertambah pula dengan paksaan ayahnya yang menikahannya dengan seorang lelaki tempramen yang bersedia menerima kehamilannya. Pada usia pernikahan kelima bulan, lelaki jodohan ayahnya itu malah melarikan sebagian harta warisan yang diberikan ayahnya. Dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, tokoh ‘aku’ membesarkan anaknya seorang diri.

Begitulah rentetan konflik yang dibangun cerpenis dalam cerpenya. Sebagai upaya membangun daya magnit untuk memunculkan emosi sehingga berkesan dan menggugah batin pembaca.

“Mataku berasa pedih. Akh, aku hampir saja menabrak pengendara sepeda motor di depanku. Dalam hati, aku bertekad untuk tidak mengingat lagi hal itu dan pertemuan hari ini. Meski ternyata hingga kini cintaku masih lekat pada lelaki berjaket biru tua yang kutemui hari ini. Reza Andinata”

Paragraf di atas merupakan paragraf akhir cerpen tersebut. Dapat dipahami bahwa meski kebencian memenuhi batin tokoh ‘aku’, ia masih menyimpan kecintaan pada Reza Andinata. Lelaki yang telah mengecewakan dan pengecut itu.

“Jangan pernah lagi bawa masa lalu itu dalam hidupku. Jangan pernah lagi menyatakan cinta karena aku kini sudah menikah.”

Paragraf di atas sebenarnya sebuah kode yang diciptakan cerpenis untuk memberikan isyarat bahwa tokoh ‘aku’ masih memiliki perasaan cinta pada lelaki itu. Kemarahan yang memunculkan ungkapan ‘aku kini sudah menikah’ merupakan isyarat pemutusan harapan lelaki itu yang ingin melamarnya. Sekaligus memberikan isyarat menampik anggapan lelaki itu kalau tokoh ‘aku’ masih memendam cinta untuknya seperti ia memendam cinta. Berlandaskan masa lalu yang begitu memilukan, tokoh ‘aku’ lebih memilih menjalani kehidupannya kini dan mengabaikan cinta yang bersarang di hatinya.

Dapat diartikan sebenarnya cerpen tersebut secara transparan mengusung faham emansipasi perempuan. Bagaimana tidak? Pada bagian awal cerpenis sudah menunjukkan bagaimana kehidupan perempuan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Disambung dengan perjuangannya mempertahankan hidup setelah terjadinya pemerkosaan yang membuatnya hamil. Lalu tentang perjodohan, di mana suaminya itu melarikan harta warisannya. ditambah pula dengan kehadiran lelaki berjaket biru tua itu. Kehadiran yang membuka kenangan pahitnya. Komplit sudah penderitaannya, penderitaan seorang perempuan. Meski demikian, meski perempuan itu dianggap makluk lemah, ia masih bisa menguasai diri. Melangsungkan hidup dan membesarkan anaknya. Anak dari hasil perkosaan.

Percut, 2014
_______________________________



Syafrizal Sahrun. Lahir di Percut, 4 November 1986. Alumni FKIP UISU Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bekerja sebagai guru honor di SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan. Karya puisi, cerpen, esai sastranya telah dimuat di media lokal dan nasional. Ada juga yang telah dibukukan dalam antologi bersama. Pernah "dinobatkan" sebagai sastrawan muda Sumatera Utara dalam Omong-omong Sastra Sumut (OOS).

Analisis Cerpen "Wesel" Karya Irwansyah

Menganalisis sebuah karya sastra pada hakekatnya adalah usaha untuk merebut makna karya sastra tersebut. Oleh sebab itu teori sastra bukanlah tujuan, melainkan alat yang digunakan dalam proses perebutan makna. Yang penting dalam usaha ini bukanlah membuktikan bahwa sebuah teori cocok atau tidak cocok dan tepat atau tidak tepat. Teori adalah tempat bertolak untuk menuju suatu medan yang tidak terduga sebelumnya, yang dalam prosesnya sama dengan penulisan karya sastra sendiri. Apabila penulisan karya sastra adalah suatu proses kreatif (kritik sastra) juga suatu proses kreatif.



Atmazaki*

Salah satu di antara keduanya (karya sastra dan kritik sastra) tidak lebih penting yang lain. Karya sastra tidak lebih penting dari kritik sastra. Sebaliknya, kritik sastra juga tidak lebih penting daripada karya sastra. Tanpa adanya karya sastra sudah barang tentu tidak dapat dilakukan kritik sastra. Tanpa dilakukan kritik sastra maka karya sastra tidak dapat berbuat apa-apa terhadap pembaca. Oleh sebab itu, keduanya merupakan kerja kreatif.

Karya satra adalah dunia otonom yang mempunyai relevansi dan signifikasi dengan dan dalam dunia nyata. Ia merupakan sebuah keseluruhan yang berstuktur, yang konsisten dan koheren (Teeuw, 1983: 22-4). Upaya merebut makna karya sastra, terutama karya naratif, dapat dimulai dari mengelompokkan peristiwa-peristiwa sesuai dengan struktur cerita (sesuai urutan waktu). Selanjutnya meneliti kaitan langsung atau tidak langsung antara peristiwa dengan peristiwa, meneliti watak tokoh (perkembangan watak tokoh). Berikutnya kita upayakan melihat bagaimana penempatan (alur), yang dapat pula dikaitkan dengan latar belakang kehadiran sebuah karya.

Apakah kita dapat atau tidak merumuskan tema dalam satu kalimat dan amanat dalam kalimat lain tidaklah begitu penting. Saat terpenting sebetulnya adalah manakala pembaca atau peneliti menemukan suatu yang berharga, yang kadang-kadang tidak dapat dirumuskan dalam beberapa kalimat saja.

Dengan merumuskan tema dan amanat sebenarnya kita telah terperangkap dalam dikotomi: iya-tidak, benar-salah, dan ini bukan yang itu. Seolah-olah tema karya sastra tertentu atau makna karya sastra tertentu hanya satu. Padahal menafsirkan teks sastra tidak boleh menunjukkan satu arti saja, melainkan membeberkan aneka kemungkinan. (Barthers dalam Luxemburg, 1984:6).

"Matahari sesungguhnyalah garang kini," adalah kalimat penutup dari cerpen "Wesel" yang ditulis oleh Irwansyah. Cerpen ini adalah Juara 1 Penulisan Cerpen Porseni tingkat Nasional tahun 1981 di Jakarta dan kemudian dimuat dalam Warta Mahasiswa edisi September 1981.

Apa yang dimaksud dengan "matahari garang" dalam cerpen ini?

Cerpen Wesel menceritakan tentang seorang mahasiswa yang datang menemui Pak Dekannya untuk mengajukan permohonan keringanan waktu untuk membayar SPP. Alasan yanh diajukan adalah karena weselnya terlambat datang, padahal ujian sudah dekat sekali. Ia sudah berulang kali berkirim surat kepada orang tuanya. Akan tetapi orang tuanya memberi alasan bahwa padi yang diharapkan saat ini terserang wereng. Oleh sebab itu, uang yang sedianya akan dikirimkan terpaksa digunakan dulu untuk membeli racun hama.

Upaya orang tuanya untuk menjual sapi satu-satunya yang mereka miliki gagal pula karena sapi mati termakan racun hama. Yang dapat disampaikannya hanyalah kata 'sabar'.

Di saat mahasiwa menceritakan keadaan orang tuanya, Pak Dekan teringat kejadian yang sama pada dirinya sewaktu ia masih menjadi mahasiswa dulu. Waktu itu permohonannya ditolak. "Tak punya uang, jangan kuliah. Perguruan Tinggi bukanlah jawatan sosial".

Pak Dekan terombang-ambing antara menerima atau menolak permohonan mahasiswa di depannya ini. Bisikan pertama menyuruh menolak sebagai balas dendam. Bisikan kedua menyuruh menerima karena hal itu kesempatan berbuat baik. Akhirnya Pak Dekan mengabulkan permohonan ini.

Setelah mengucapkan terima kasih dalam keharuan yang mencekam (keduanya meneteskan air mata) mahasiswa pulang ke tempat pemondokannya. Di saat itulah wesel datang. Kedatangan wesel itu tidak sedikitpun mengembirakan si mahasiswa ini, justru lebih menegangkan. "Ayah sudah meninggal. Pulanglah segera. Ini sekedar ongkos pulang," begitu berita yang tertulis di sudut wesel.

***

Dari jalan cerita yang begitu memukau dapat diduga bahwa yang dimaksud dengan matahari dalam cerpen "Wesel" adalah kehidupan dan perjuangan si mahasiswa dan keluarganya. Kesusahan, penderitaan yang begitu menyiksa digambarkan oleh penulis dengan "matahari yang garang". Panas yang membuat kering segala kelembaban; membuat mati rumput dan kayu yang dapat mengancam kehidupan.

Akan tetapi kalau manusia mau bersabar dan berusaha sambil berdoa, di balik pendakian ada penurunan; sekali kehidupan di atas, sekali di bawah;  sekali air besar, sekali tepian berubah. Setiap akhir musim kemarau pasti ada musim hujan walaupun nanti akan kemarau lagi.

Begitulah nasib mahasiswa ini. Dalam keganasan mataharinya, turun sedikit embun. Walaupun tidak membasahkan tetapi cukup melembabkan. Walaupun Pak Dekan mempunyai kesempatan untuk membalas dendam, namun ada bisikan mulia dari Yang Maha Gaib, "Bantulah orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Ini kesempatan kau berbuat baik. Kesempatan untuk menambah tabungan amal di akhirat. Jangan kotori lagi hidupmu yang tersisa". Begitu kuat gema bisikan ini, sehingga mengalahkan bisikan kedua, "Ah, masa bodoh dengan nasib lelaki muda di depanmu. Biar dirasakannya apa yang dulu pernah kau rasakan. Masakan kau saja yang merasakan getirnya. Kau sudah pernah merasakan sakitnya. Tapi kau  belum pernah merasakan bagaimana puasnya bila bisa membalaskan sakit hati. Sekaranglah masanya. Pergunakanlah kesempatan ini. Pergunakanlah kekuasaanmu. Juga dengan berbuat demikian belum tentu akan menambah lama kau di neraka. Ayo, apalagi! Apalagi!

Rupanya masalah tidak hanya sampai di sana. Matahari semakin ganas di pundak si mahasiswa. Ayahnya meninggal...!

***

Cerpen "Wesel" menggunakan alur sorot balik. Urutanb peristiwa yang kita jumpai dalam teks adalah sebagai berikut. Peristiwa pertama yang kita jumpai adalah kehadiran seorang mahasiswa di dalam kantor Pak Dekan untuk meminta keringanan waktu pembayaran SPP (selanjutnya disebut peristiwa A).

Peristiwa kedua adalah kehidupan orang tua si mahasiswa di kampung. Penceritaan peristiwa kedua ini berada dalam rangka peristiwa pertama, yaitu alasan yang dikemukakan si mahasiswa (B).

Peristiwa yang ketiga juga berada dalam peristiwa pertama, yaitu kegoncangan yang dialami oleh Pak Dekan antara menerima dan menolak permohonan mahasiswa karena teringat masa lalunya yang persis samabdengan keadaan mahasiswa yang di depannya (C). Sampai akhirnya Pak Dekan mengabulkan (D). Peristiwa berikutya mahasiswa menerima wesel setelah sampai di pemondokannya (E). Peristiwa terakhir berita kematian orang tuanya (F).

Secara urutan waktu peristiwa B lebih dahulu daripada peristiwa A kerena peristiwa B menyebabkan timbulnya A. Begitu juga peristiwa F lebih dahulu daripada peristiwa E karena berita yang ada pada berita E disebabkan oleh peristiwa F. Sehingga kalau digambarkan maka:

Struktur Penceritaan: A-B-C-D-E-F

Struktur Cerita: C-B-A-D-F-E

Apa artinya alur dalam sebuah cerita?

"Alur ialah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logik dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan dan dialami oleh para pelaku," (Luxemburg, 1984:149). Dengan pengertian ini, jelas alur bukanlah ditentukan oleh pengarang. Dengan kata lain, pengarang tidak merancang terlebih dahulu alur mana yang akan digunakannya. Akan tetapi pembacalah dengan pengetahuannya mengenai alur mengongkritkan jenis 'apanya' alur karya sastra tersebut. Hal ini juga berdasarkan anggapan bahwa penulisan karya sastra bukanlah kerja pertukangan yang memulakan terlebih dahulu apa yang ingin dibuatnya. Penulisan karya sastra adalah proses kreatif. Sebuah proses yang tidak didahului dengan membuat pola, mengumpulkan bahan, dan mencari tokoh. Akan tetapi segala sesuatu terlahir sewaktu proses kreatif itu berlangsung.

Fungsi alur yang utama adalah agar cerita terasa sebagai cerita yang berkesinambungan dan mempunyai kaitan yang erat antara peristiwa dengan peristiwa. Di samping itu alur juha menjadikan cerita berjalan lancar, tidak tersendat-sendat. Untuk merebut makna sebuah karya naratif, alur tidak selalu berperanan. Untuk karya sastra nonkonvensional atau apa yang disebut dengan karya "anti alur" seperti karya-karya surealisme mungkin penokohan dan perwatakan yang lebih penting. Untuk karya yang konvensional, alur sangat berperan, di samping penokohan dan perwatakan.

Dalam cerpen "Wesel", peristiwa C tidak muncul pertama kali tetapi muncul sebagai peristiwa ketiga. Padahal menurut urutan waktu, peristiwa C mendahului seluruh peristiwa. Hal ini dimungkinkan karena kalau C muncul pertama kali maka terjadi perpindahan suasana secara drastis dan cerita harus dihentikan untuk sementara untuk menjeput peristiwa B yang dalam urutan waktu adalah peristiwa kedua. Kalau ini terjadi maka cerpen tersebut telah kehilangan cironya sebagai cerpen yaitu 'kepaduan'.

Dalam cerpen, 'kepaduan' lebih diutamakan sehingga jarak waktu yang begitu lama (dari C ke B) terasa pendek saja. Untuk menjelaskan pengertian kepaduan ini dapat diambil perbandingan kepada "kaba" (sejenis sastra lisan Minangkabau). Dalam "kaba", peristiwa dikisahkan secara tersendiri, terpisah-pisah. Hal ini dapat diperhatikan dengan melihat cara perpindahan satu peristiwa ke peristiwa lain dengan menggunakan ucapan:

"Kaba baraliah anyo lai, namun baraliah sanan juo," atau "Diulang sekali lai, panjampuik nan tingga cako". (Cerita berpindah lagi, namun perpindahan di sana juga, atau Diulang sekali lagi, untuk menjeput yang tinggal tadi.)

Hal seperti itu tidak pernah ada, bahkan tak mungkin ada dalam cerpen karena hal itu memperlihatkan jarak dan kerenggangan peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Pada bagian lain "Wesel", E mendahului F karena keduanya mempunyai hubungan kausalitas. Padahal menurut urutan waktu F lebih dahulu daripada E. Dengan alasan kepaduan tadi maka cerita menjadi lamcar, padat (padu), dan lancar. Inilah fungsi flash back dalam cerpen "Wesel".

***

Tokoh utama dalam cerpen "Wesel" adalah si mahasiswa dengan latar belakang kehidupan yang "berkekurangan". Keinginan melanjutkan perkuliahan dalam keadaan berkekurangan seperti itu memaksanya untuk menempuh satu-satunya jalan agar SPP tidak menjadi halangan untuk menempuh ujian. Ia meminta dispensasi waktu untuk membayar SPP. Kalau ini gagal maka sia-sialah perkuliahannya selama ini.

Walaupun permohonannya diterima, tidak berarti "Mayahari tidak akan garang lagi. Itu hanyalah gerimis yang menyebabkan awan menutupi sinar matahari untuk sementara. Namun dalam kebersahabatan matahari  di pundak mahasiswa untuk sementara itu, justru mengingatkan tokoh kedua (Pak Dekan) akan masa lalunya yang juga "diteriki oleh mataharinya". Ia pernah memimta dispensasi waktu untuk membayar SPP kepada dekannya, tetapi ditolak dengan jawaban yang menyakitkan, "Tidak punya uang, jangan kuliah. Perguruan Tinggi bukan jawatan sosial". Sakit, sakit sekali. Sungguh sakit menjadi orang melarat.

Peristiwa yang menyakitkan itu tidak menjadikannya sombong. Ia tidak mau membalas dendam walaupun ia sempat terombang-ambing antara menerima dan menolak permintaan mahasiswanya. Justru peristiwa itu dijadikannya pelajaran bahwa membantu orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan akan menambah tabungan untuk dibuka di akhirat nanti. Oleh sebab itu ia mengabulkan permintaan tokoh utama (si mahasiswa).

Kematian orang tua tokoh utama di saat-saat ia mengharapkan kiriman uang membuat peristiwa semakin berlanjut. Tiupan angin segar dari dekannya sirna begitu saja. Wesel yang datang bukanlah sebagaimana wesel yang ditunggu setiap orang. Ia tidak membawa bahagia. Ia tidak terukir dengan uang puluhan ribu, tetapi membawa pisau yang mengoyak-ngoyak jantung orang yang menerimanya. Pilu...!

***

Persoalan yang ditampilkan cerpen "Wesel" sungguh menarik. Perwatakannya sangat intens. Di akhir cerita baru kita tahu bahwa peristiwa sebelumnya benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan watak tokoh-tokohnya, menunggu kedatangan bom yang menghancurkan perasaan siapa saja yang mengalaminya. Kematian orang tua di saat kehadirannya sangat dibutuhkan.

Padang, 24 Maret 1986

______________________________________

(Artikel telah terbit di Harian Singgalang, 3 April 1986.)

Thursday, November 5, 2020

Syafrizal Sahrun dan Eksistensi Manusia

Membaca puisi pada umumnya. Kemudian akhirnya membaca satu pilihan yang diarahkan oleh si pembaca menurut perasaan dan pikiran juga imajinasinya juga. Secara kasarnya menurut seleranya.

Membaca sebuah kesempatan. Alangkah luas area yang akan disajikan oleh si pembaca. Pada sisi lain begitu tak pastinya sosok yang dia amati, jadi ada kecenderungan dia akan tersesat ke satu pelosok yang tidak dikehendaki. Inilah barangkali. Saat memilih kompilasi dia menyetujui pilihannya, mendedahkan apa yang dia baca untuk orang lain, dia harus siap menerima semua yang diinginkan.

Damiri Mahmud*

Ada tiga puisi Syafrizal Sahrun yang dia muatkan di kolom Rebana, 27 Juli 2014. Kalimat ketiga itu (Fulan, Jalan Lain, Pulang Kampung) menurut pengamatan kita adalah bancuhan dari perasan, pikiran juga yang bertali-berkelindan satu sama lain. Ini adalah gaya yang memang tak mudah menyeimbangkannya.

Pada dasarnya puisi itu masih kita lihat bagaimana penyair masih belum sepenuhnya percaya pada kekuatan kata. Dia masih tampak sadar berhadapan dengan percakapan untuk membangun satu komunikasi dan pemahaman. Puisi kita dapati selalu terdiri gumam.

Dalam puisi “Fulan”, Syafrizal tampak berbicara tentang kelahiran dan kematian manusia sekali gus. Antara kelahiran dan kematian itu dia menyisipkan pergulatan hidup seorang anak manusia dalam membina eksistensinya. Dalam pergulatan hidup di dunia ini, penyair melihat pertarungan manusia yang getir dan pahit sementara dia berjuang kebahagiaan. Di sini penyair tampak menjadi gamang dengan memunculkan satu mengundang ironi: jika gigil telah dikirim / aku hujan yang nyala / dalam neon lampu beranda //.

Alangkah dilematisnya kehidupan seorang anak manusia dalam menapaki hidup ini. Dia tak lain adalah serpihan gigil demi gigil yang menjelma hujan. Basah kuyup dan menggigil dalam persetujuan tinggal yang tak pasti. Penuh dengan godaan yang menjerumuskan. Anehnya, mengharapkan "neon lampu beranda". Kecemerlangan. Kebahagiaan.

Kita melihat amsal dalam kehidupan nyata. Seorang anak diasuh dan dididik dalam bangku sekolah. Kemudian masuk perguruan tinggi. Terus melangit ke tingkat intelektual yang mumpuni. Pada saat ini dia diharapkan telah siap menerima tanggung jawab. Karena telah dibekali dan dibuat oleh berbagai perisai yang siap menerima terpaan. Kenyataan hidup ternyata tidak sesederhana itu. Dunia rupanya merupakan jalan tol menuju surga. Dia penuh onak dan duri. Penuh "miang". Seperti yang dilukiskan oleh penyair: jika lambai halang ilalang / sarang sarang di badan / di situ mimpiku pulang / lari / rangkul berpelukan /.

Umpan ini juga penuh ironi. Berkejaran antara harapan hidup dan kenyataan getir yang harus ditanggungkan. Hidup di dunia adalah lambaian yang penuh gairah terhadap taman yang semerbak. Dengan bunga-bunga aneka warna.

Pada saat yang sama di sana mengintai halangan dan terpaan. Di antara bunga muncul sesuatu yang tak diharapkan. Berupa ilalang yang menjadi semak-samun. Sesuatu yang tak terduga. Kemudian muncul dan menjelma menjadi tragis: menjadi miang! Racun yang bersarang di badan. Mau lari dari kenyataan ini? Memang manusia selalu menghindar dari kenyataan pahit yang dialaminya. Semakin dia berusaha lari semakin dia berangkul dan berpelukan!

Mari kita lanjutkan dengan masalah anak yang telah dibekali ilmu-pengetahuan yang mumpuni di atas. Bagai mesin yang canggih dia sudah siap melayani pekerjaan yang meminta tanggung jawab berat. Ternyata seorang anak manusia hanyalah mesin. Dia tak cukup dibekali hanya dengan ilmu-pengetahuan. Taruhlah dia diberi jabatan yang berkelas. Sementara itu, keputusan strategis yang ditutup. Masih bisa amblas oleh lambaian halang ilalang tadi.

Misalnya Ketua Menteri Agama atau Ketua MK tentulah satu jabatan yang hampir tidak memiliki kepemilikan yang berlubang. Tentu kita beranggapan jabatan seperti itu disandang oleh yang punya arif dan mumpuni. Dalam realita ternyata mereka sama rapuhnya sebagai manusia biasa. Mereka memiliki "mimpi" yang sama dalam hidup ini. Untuk megelakkan "miang". Ketakutan dan kepahitan hidup. Untuk keluar dari sana lalu lakukan jalan pintas. Menikmati mimpi sambil dibangun dari ilusi.

Puisi Jalan Lain mengarah ke kematian atau keinsyafaan diri, Penyair seakan memberikan terapi terhadap apa yang terjadi pada puisi pertama di atas. / Menolak matamu / menolak daun-tumbuh / tumbuh, kembang dan gugur /. Dalam sastra Islam, Rasulullah SAW selalu menganjur umat mengingat kematian. Abubakar As-Shiddiq menggigil tatkala merasakan kematian karena di sana akan berjumpa Tuhan.

“Alangkah kehancuran dan aku menjadi jerami saja”, bisiknya.

Umpan balik pada umpan ketiga: / matikan badanmu / biarkan alam-alam / lintas dan melumuri adamu / mengafanimu / kau akan menangis /.

Saat mengingat dan mengingat kematian manusia yang arif dapat melawan dan membantah eksistensinya ke jalan yang dicita-citakannya. Ustman ibn. Affan menjadi insyaf mengingat kematian karena menyadari di alam kematian manusia betul-betul hanya seorang diri. Tak bergaul dan tak terbantahkan dengan siapa pun yang disetujui di dunia.

Dalam hal ini eksistensi dan kematian merupakan dua rangkaian yang tak terpisahkan. Eksistensi adalah usaha manusia dalam mewujudkannya di dunia. Kematian mengingatkan dan mengarahkan manusia ke arah alam idealnya.

Mengapa manusia umumnya selalu terpeleset ke Arah yang berbeda dari yang diharapkan. Diharapkan itu berbeda dari dunia idealnya? Seperti yang dituturkan oleh penyair dalam puisi pertama, “kehidupan penuh” lambai halang ilalang ”? Apakah manusia modern sebagian besar sudah enggan mengingat kematian? Mungkin juga. Mereka mengelak demi impiannya.

Secara ironi fenomena ini diumumkan penyair pada umpan kedua: katupkan mulutmu / biarkan kali ini hatimu yang berbicara / menelanjangi di depan kaca /. Ironi. Karena mau kita tatap di acara demi acara dewasa ini, siapa lagi yang sudi mengatupkan mulutnya alias mau berdiam diri senang bisa berkata-kata.

Kita melihat seperti di dalam arena pileg dan pilpres semua yang terlibat berbicara seperti tanpa selesai mengumbar janji-janji, menepuk dada atau meminta tanpa malu sesuatu yang harus dikeluarkan dari yang diminta. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Apakah perlu untuk mengisi dan membebaskan eksistensi seluas-luasnya?

Jean Paul Sartre, seorang filsuf Eksistensialisme membuka jalan ke arah ini. Katanya, “Realitas manusia gratis, pada dasarnya dan sepenuhnya gratis” (Realitas manusia bebas, pada kebebasan dan kebebasan bebas). Karena eksistensi manusia sesuai batas, sementara Sartre pun di pihak lain berpendapat tentang maut alih eksistensi menjadi esensi, maka ia memvonis maut sebagai sesuatu yang absurd.

Sartre menolak kehadiran atau mengubah antara eksistensi dan maut, meminta yang dikehendaki dalam literatur Islam tadi. Dia berpendapat bahwa maut berada di luar eksistensi manusia. Dengan demikian eksistensi (kehendak manusia mewujudkannya) sepenuhnya bebas.

Jika kita tahu konsep filsuf Eksistensialisme yang muncul awal abad kedua-puluh yang berakar dari budaya Yunani itu tampak laku keras di Barat. Filsafat ini mengagungkan manusia sebagai sentral. Manusialah yang memiliki eksistensi sepenuhnya tanpa batas. Tidak dapat ditampik, pada awalnya manusia memacu eksistensinya membawa kemajuan yang sangat pesat. Terutama di bidang sains dan teknologi yang memberikan kemaslahatan kepada manusia. Apa yang dicapai manusia di abad terakhir ini sungguh mencengangkan.

Di sisi lain, dia memberikan dampak negatif yang bukan pula alang-kepalang. Sebotol minyak wangi atau satu mobil mungil yang keluar dari pabrik menghasilkan limbah yang tidak sedikit. Obat-obat yang mereka ciptakan berbalik menjadi penyakit dan panggil yang membantah.

Pupuk-pupuk kimia malah membuat tanah jadi tandus. Jasmaniah manusia modern kelihatan sehat-wa'lafiat namun jiwanya kering-kerontang. Pemberhalaan manusia oleh filsafat barat malahan membalikkan umat manusia dalam situasi stagnan!

Puisi-puisi Syafrizal yang ditangkap mengerti kekeliruan itu. Pada puisinya "Pulang Kampung" sugestif sekali dia bertanya: Kamu mau ke mana. Ya Mau ke mana kita. Sebuah pertanyaan filosofis yang harus dijawab.

_______________________________


Damiri Mahmud. Lahir di Hamparan Perak, 17 Januari 1945 dan wafat pada 30 Desember 2019 di kampung kelahirannya. Anak Melayu ini dikenal sebagai satrawan dan kritikus sastra Indonesia. Karya tulisnya tersebar di berbagai media masa lokal, nasional, serta Malaysia. Ada pula yang telah dibukukan.


(Artikel sudah terbit di Harian Analisa, 31 Agustus 2014.)

Ad Placement